— Bripda Nopandri Ramadhana, anggota yang sempat hilang saat operasi pemberantasan narkoba di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, ditemukan dalam kondisi gugur.

Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dittipidnarkoba) Bareskrim Polri menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya Bripda Nopandri saat menjalankan tugas.

“Kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga Bripda Nopandri. Almarhum gugur saat menjalankan tugas. Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan serta kekuatan,” ujar Dirtipid Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Eko Hadi Santoso, dalam keterangan, Sabtu (4/7/2026).

Penanganan dan Pengejaran Pelaku

Brigjen Eko menyatakan peristiwa ini mendapat perhatian serius dari Bareskrim. Tim gabungan masih bekerja untuk mengungkap peristiwa secara tuntas dan melakukan pengejaran terhadap para pelaku yang diduga terlibat.

“Tim masih terus melakukan pengejaran terhadap para pelaku yang diduga terlibat. Kami tidak akan berhenti sampai seluruh pelaku berhasil diamankan dan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku,”

Bareskrim juga menyebut telah berkoordinasi dengan Polda Kalimantan Tengah dan Polres Katingan dalam proses penyelidikan dan pengejaran. Masyarakat yang memiliki informasi diminta segera menyampaikannya kepada polisi.

“Kami mengimbau masyarakat untuk mendukung proses penegakan hukum dengan memberikan informasi yang dapat membantu penyelidikan. Setiap informasi akan kami tindak lanjuti,”

Institusi penegak hukum menegaskan akan mengusut kasus ini sampai tuntas sebagai bentuk komitmen memberikan keadilan bagi anggota Polri yang gugur saat menjalankan tugas.

Kronologi Singkat Penggerebekan

Penggerebekan terhadap bandar narkoba di Desa Tumbang Kalemei berlangsung pada Rabu (1/7) dini hari. Dalam operasi itu, Aipda Yudhie ditemukan tewas akibat luka senjata tajam.

Saat penindakan, dua anggota Satresnarkoba Polres Katingan, yakni Aiptu Sumaryanto dan Bripda Nopandri Ramadhana, dilaporkan sempat hilang dan sampai kemudian ditemukan bahwa Bripda Nopandri gugur.

Operasi dilaksanakan setelah penyelidikan mengarah pada seorang target berinisial BIO, yang disebut sebagai residivis kasus narkotika. Sebanyak 12 personel diterjunkan dan dibagi menjadi dua kelompok: tim penindakan di rumah target dan tim pendukung di lokasi lain.

Menurut laporan kepolisian, saat target berhasil diamankan, situasi berubah ketika sejumlah orang di dalam rumah dan warga sekitar melakukan perlawanan menggunakan parang. Massa dilaporkan bertambah dan menyerang dengan senjata tajam serta senjata api rakitan.

Dalam kondisi yang semakin tidak terkendali, personel berupaya menyelamatkan diri dan meminta bantuan penebalan. Beberapa anggota dilaporkan berenang menyeberangi sungai dan berlindung di kawasan hutan untuk menghindari serangan massa.

Saat ini pencarian terhadap Aiptu Sumaryanto masih berlangsung oleh tim gabungan, sementara proses penyelidikan peristiwa terus dilanjutkan oleh Bareskrim bersama instansi terkait.