PPSI — Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, menyatakan kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin menjadi peringatan atas kondisi pengelolaan sampah nasional.
Dalam keterangan tertulis, Minggu (5/7/2026), Eddy menyebut peristiwa itu menegaskan perlunya transformasi dari sistem penimbunan sampah menuju pendekatan yang lebih modern, termasuk penerapan mekanisme Waste-to-Energy (WTE).
Dia menilai WTE dapat mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA sambil menghasilkan energi yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Kebakaran TPA Jatiwaringin menjadi alarm bahwa kapasitas pengelolaan sampah kita sudah berada di titik yang membutuhkan perubahan mendasar. Termasuk di dalamnya adalah memproses sampah menjadi sumber daya yang memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk menjadi energi listrik,” ujar Eddy.
Eddy mengingatkan Indonesia menghasilkan sekitar 56 juta ton sampah setiap tahun, dengan sebagian besar masih berakhir melalui sistem penimbunan di TPA.
Menurutnya, praktik penimbunan meningkatkan risiko kebakaran karena akumulasi gas metana, memperbesar pencemaran lingkungan, dan menutup peluang pemanfaatan energi serta nilai ekonomi dari sampah.
Dukungan Terhadap Pembangunan WTE
Eddy menyatakan dukungan terhadap upaya pemerintah dalam mempercepat pembangunan fasilitas Waste-to-Energy di berbagai daerah sebagai bagian dari pembenahan sistem pengelolaan sampah nasional.
“Program Waste-to-Energy merupakan salah satu solusi strategis karena mampu menjawab dua tantangan sekaligus, yakni mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA dan menghasilkan energi listrik yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Inilah bentuk nyata ekonomi sirkular yang memberikan nilai tambah dari sesuatu yang selama ini dianggap sebagai limbah,” katanya.
Prinsip Pengelolaan dan Prioritas Pengurangan Sampah
Eddy menekankan fasilitas WTE harus dibangun dan dioperasikan sesuai ketentuan lingkungan hidup, memakai teknologi terbaik, diawasi secara transparan, dan memenuhi standar emisi internasional.
Dia juga menegaskan bahwa pengurangan sampah sejak sumber tetap menjadi prioritas. Langkah yang disebutnya penting meliputi pemilahan sampah rumah tangga, peningkatan kegiatan daur ulang, penguatan bank sampah, serta edukasi kepada masyarakat.
“Waste-to-Energy bukan berarti kita mengabaikan upaya pengurangan sampah. Justru WTE menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi. Sampah yang masih memiliki nilai ekonomi harus didaur ulang terlebih dahulu, sedangkan residunya dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi,” jelas Eddy.
Ia berharap kebakaran TPA Jatiwaringin menjadi momentum mempercepat transisi dari pendekatan landfill-oriented ke sistem pengelolaan sampah modern yang mengedepankan teknologi, ekonomi sirkular, dan energi bersih.
“Persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan memperluas TPA. Kita membutuhkan keberanian melakukan lompatan kebijakan melalui percepatan pembangunan Waste-to-Energy sebagai bagian dari strategi nasional menuju Indonesia yang lebih bersih, lebih sehat, sekaligus lebih mandiri dalam penyediaan energi. Momentum ini harus kita manfaatkan agar kejadian seperti kebakaran TPA Jatiwaringin tidak terus berulang di masa mendatang,” pungkasnya.
Ikuti PPSI
