
Universitas Gadjah Mada baru saja menjadi tuan rumah Seminar Sejarah Nasional. Seminar yang bertajuk “Sejarah untuk Kebinekaan dan Ke-Indonesiaan: Refleksi 60 Tahun Seminar SejarahNasional 1957-2017” tersebut dihadiri ratusan peserta dari dalam dan luar negeri. Seminar tersebut menghadirkan beberapa kunci, yakni Hilmar Farid (Direktur Jenderal Kebudayaan) dan pembicara utama Prof. Dr. Bambang Purwanto, Prof. Dr. Haryono, M.Pd.,serta Muhammad Ali. Seminar yang diadakan pada 14-16 Desember 2017 di Gedung Soegondo, Fakultas Ilmu Budaya UGM tersebut secara simbolis dibuka langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP.
Hilmar dalam seminar tersebut tak menyangka bahwa animo para sejarawan sangat tinggi terhadap seminar ini. Ia menjelaskan bahwa pada awalnya seminar sejarah ini hanya dibuka untuk 60 pemakalah, tetapi jumlah makalah yang dikirim bertambah hingga lima kali lipat.
“Animo para pemakalah sangat tinggi, biasanya paper sejarah kita cari-cari tapi untuk seminar sejarah ini kita sampai menyeleksi karena jumlahnya yang sangat banyak,” ujar Hilmar. Ia berharap pertemuan ini dapat menciptakan sejarah dalam penulisan sejarah.
Muhadjir dalam pembukaan seminar tersebut mengatakan bahwa saat ini sejarawan dirasa kurang banyak memengaruhi kebijakan strategis pemerintahan. Hal tersebut membuat berbagai kebijakan yang dibuat jadi ahistoris. Ia menambahkan bahwa banyak kasus sulit diselesaikan karena ahistoris dan tidak dilandasi dari akar sejarah.“Benar kata Soekarno yang mengatakan jas merah, jangan lupa sejarah,” ujar Muhadjir.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan berharap para sejarawan dan ahli sejarah memiliki konstitusi yang signifikan untuk ikut mewarnai konsep-konsep dan rumusan-rumusan yang sifatnya strategis dalam pembangunan Indonesia ke depan. “Jangan sampai arah pembangunan Indonesia itu menjadi ahistoris,”tutupnya.