— Presiden Belarus Aleksandr Lukashenko melakukan kunjungan kenegaraan kedua ke Indonesia dan menjadi tamu negara sahabat pertama yang menginap di Istana Negara, Jakarta. Kunjungan ini disambut Presiden Prabowo Subianto dengan prosesi resmi di Istana Merdeka, Kamis (2/7).

Upacara penyambutan dimulai sejak rombongan memasuki gerbang Istana Merdeka sekitar pukul 11.25 WIB, melibatkan pasukan berkuda, pengawal bermotor, serta barisan jajar kehormatan. Para siswa juga hadir mengibarkan bendera kedua negara saat prosesi berlangsung.

Penyambutan dan Pertemuan Awal

Setibanya di halaman Istana, Lukashenko disambut tarian Enggang dari Kalimantan Timur sebagai bentuk penghormatan. Kedua kepala negara berjabat tangan dan berpelukan sebelum berjalan menuju mimbar upacara di teras Istana Merdeka.

Upacara resmi diawali dengan lagu kebangsaan Belarus dan Indonesia, dilanjutkan inspeksi pasukan kehormatan. Setelah itu, Prabowo dan Lukashenko menyapa para siswa yang berbaris dan saling memperkenalkan anggota delegasi masing-masing negara.

Di Ruang Kredensial, Lukashenko menandatangani buku tamu dan secara spontan menyerahkan pulpen yang digunakannya kepada Prabowo. Keduanya lalu mengadakan pertemuan tete-a-tete yang dilanjutkan dengan pertemuan bilateral bersama delegasi.

Roadmap Kerja Sama 2026–2030 dan Perjanjian

Hasil pertemuan bilateral menghasilkan peluncuran Road Map for Bilateral Cooperation 2026–2030, yang menurut Prabowo menjadi kerangka pengembangan hubungan bilateral selama lima tahun ke depan.

Prabowo menyebut peta jalan tersebut mencakup kerja sama pada ketahanan pangan, termasuk pupuk dan alat pertanian; pengembangan industri; modernisasi pertanian; penguatan rantai pasok; serta kerja sama teknologi. Di bidang perdagangan dan industri, kedua negara sepakat memperluas kemitraan yang mendukung agenda pembangunan nasional masing-masing, termasuk investasi di sektor manufaktur, otomotif, kendaraan berat, dan agroindustri.

Pada bidang sosial budaya dan sumber daya manusia, Prabowo menyatakan kedua negara setuju memperkuat kemitraan pendidikan dan pelatihan vokasi serta pertukaran budaya.

Pertemuan juga menghasilkan tujuh nota kesepahaman dan perjanjian kerja sama, yakni:

  • Nota Kesepahaman Kerja Sama Industri antara Kementerian Perindustrian RI dan Kementerian Perindustrian Belarus;
  • Nota Kesepahaman Kerja Sama Kebudayaan antara Kementerian Kebudayaan RI dan Kementerian Kebudayaan Belarus;
  • Nota Kesepahaman Kerja Sama antara Otoritas Jasa Keuangan RI dan Bank Nasional Belarus;
  • Nota Kesepahaman Kerja Sama Bidang Kesehatan antara Kementerian Kesehatan RI dan Kementerian Kesehatan Belarus;
  • Perjanjian Kerja Sama Ilmiah dan Teknis antara BRIN dan Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional Belarus;
  • Nota Kesepahaman Kerja Sama Pertukaran Laporan Intelijen terkait pencucian uang, pendanaan terorisme, dan proliferasi senjata pemusnah massal antara PPATK dan Departemen Pemantauan Keuangan Komite Kontrol Negara Belarus;
  • Nota Kesepahaman Kerja Sama Bidang Akreditasi Nasional antara Komite Akreditasi Nasional RI dan Belarusian State Center for Accreditation.

Pernyataan Lukashenko dan Sejarah Kunjungan

Lukashenko menyatakan Indonesia merupakan mitra penting bagi Belarus di Asia Tenggara. “Indonesia akan selalu menjadi salah satu partner penting Belarus di Asia Tenggara. Dan tahukah Anda, jika ada cuma satu teman di Asia Tenggara, bagi saya itu cukup,” kata Lukashenko dalam konferensi pers bersama Prabowo.

Ia menyambut baik rencana pembukaan kedutaan besar Indonesia di Belarus dan rute penerbangan langsung yang dinilai akan meningkatkan kunjungan warga kedua negara dan memperkuat kerja sama pariwisata.

Ini adalah kunjungan Lukashenko kedua ke Indonesia setelah kunjungan pertamanya pada 2013. Prabowo menyebut kunjungan kali ini sebagai kehormatan dan menyampaikan terima kasih atas sambutan saat lawatannya ke Belarus pada 2025, serta menyatakan akan membalas kunjungan tersebut.

Menginap di Istana Negara

Kunjungan Lukashenko kali ini berbeda karena ia menginap di Istana Negara selama berada di Indonesia. Menteri Luar Negeri Sugiono menyatakan Lukashenko menjadi presiden negara sahabat pertama yang menginap di Istana Negara.

Menurut Sugiono, tamu kepala negara yang berkunjung biasanya menginap di Wisma Negara atau hotel. Tidak ada alasan khusus selain penghormatan kepada tamu negara, dan Lukashenko memilih untuk menginap di Istana karena dinilai lebih representatif.